Belum kering peluh di dahi Yola, ibunya menyodorkan selembar catatan berisi daftar hafalan penjumlahan.

Sejam lalu murid SD kelas I itu mendapat nilai jelek untuk pelajaran matematika di sekolah. “Kalau tambah-tambahan saja enggak hafal, mana bisa mendapat ranking satu?” kata ibunya. Si anak yang lelah cuma pasrah. “Memangnya, siapa yang tak mau dapat ranking satu?” batinnya protes.

Kata ranking di dunia sekolah memang lebih mewakili kepentingan orangtua ketimbang anak. Ranking juga simbol, betapa kecerdasan intelektual (IQ) masih didewakan sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan. Kemampuan anak didik hanya diukur dari nilai akademis. Jika nilai rapornya mencapai skala 8 – 10, ia akan dianggap anak pandai, cerdas, pintar. Padahal “kepintaran” di atas kertas itu bukanlah “kepintaran” sejati.

Sialnya, pemahaman salah kaprah itu diyakini sebagian besar dari kita, orangtua. Siapa yang ber-IQ tinggi kelak bakal sukses hidupnya ketimbang orang yang IQ-nya rata-rata. Padahal dalam praktik, tidak selalu demikian. Misal, Tak sedikit pemiliki IQ tinggi justru terpental dari ketatnya persaingan memasuki dunia kerja. Baca entri selengkapnya »

Shalat Anak“Bunda…aku kan udah tahu caranya pasang ‘pampers’ dewasa, kalau nanti aku dah baligh. Tau nggak apa yang aku seneng kalau aku dah baligh?” matanya mengerjab-ngerjap seperti binatang.

“Apa ya? Hmm… soal dipercaya kali ya? Kan udah gede, atau hmm… apa ya? Bisa jalan-jalan jauh? Atau..hmm..apa ya?

“He..he..he.. Bunda, tapi jangan marah ya…janji ya…!”

“Ah adik, kayak bundanya suka marah-marah aja…Emang Bunda suka marah?”

“Hmm… suka juga sih, tapi ini jujur, lho…, Bunda suka marah tapi kalau anak-anaknya keteraluan! Iya kan?”

Ibu tersebut mencubit pipi anaknya dengan gemas, lalu berkata, “Oke deh, kalau Bunda keteralaluan, maafin juga ya, Dik…”

Mereka saling berpelukan.

“O ya tadi, apa yang enak… kalau adik udah baligh?”

Sambil merapatkan badan dipangkuan ibunya, anak tersebut berkata, “He..he..he.. enaknya?..he..he.. enakmya kita bisa nggak shalat! He..he..he.. Bunda enggak marahkan?”

Sang ibu mesem pahit, “Iya juga ya Dik…he…he…susah ya Dek shalat terus?” Baca entri selengkapnya »

Selamat menikmati Weblog dari Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Haraki, Depok. Kumpulan tulisan disini dikontribusikan untuk kemajuan Generasi Rabbani. Bila ingin ikut berkontribusi silahkan kirimkan tulisan, artikel, opini, nasehat dan lainnya yang berguna bagi dunia pendidikan Islam ke mkfachrulz@gmail.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.