<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SDIT Al-haraki's Weblog</title>
	<atom:link href="http://alharaki.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alharaki.wordpress.com</link>
	<description>Membina Generasi Rabbani</description>
	<lastBuildDate>Wed, 06 Aug 2008 07:31:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alharaki.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SDIT Al-haraki's Weblog</title>
		<link>http://alharaki.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alharaki.wordpress.com/osd.xml" title="SDIT Al-haraki&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alharaki.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kejarlah EQ, Sukses Kau Tangkap!</title>
		<link>http://alharaki.wordpress.com/2008/08/06/kejarlah-eq-sukses-kau-tangkap/</link>
		<comments>http://alharaki.wordpress.com/2008/08/06/kejarlah-eq-sukses-kau-tangkap/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 07:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alharaki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[IQ]]></category>
		<category><![CDATA[EQ]]></category>
		<category><![CDATA[Intisari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alharaki.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Belum kering peluh di dahi Yola, ibunya menyodorkan selembar catatan berisi daftar hafalan penjumlahan. Sejam lalu murid SD kelas I itu mendapat nilai jelek untuk pelajaran matematika di sekolah. “Kalau tambah-tambahan saja enggak hafal, mana bisa mendapat ranking satu?” kata ibunya. Si anak yang lelah cuma pasrah. “Memangnya, siapa yang tak mau dapat ranking satu?” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alharaki.wordpress.com&amp;blog=2248185&amp;post=8&amp;subd=alharaki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Belum kering peluh di dahi Yola, ibunya  menyodorkan selembar catatan berisi daftar hafalan penjumlahan.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Sejam lalu murid SD kelas I itu mendapat  nilai jelek untuk pelajaran matematika di sekolah. “Kalau tambah-tambahan saja  enggak hafal, mana bisa mendapat ranking satu?” kata ibunya. Si anak yang lelah  cuma pasrah. “Memangnya, siapa yang tak mau dapat ranking satu?” batinnya  protes.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Kata ranking di dunia sekolah memang lebih  mewakili kepentingan orangtua ketimbang anak. Ranking juga simbol, betapa  kecerdasan intelektual (IQ) masih didewakan sebagai satu-satunya ukuran  kecerdasan. Kemampuan anak didik hanya diukur dari nilai akademis. Jika nilai  rapornya mencapai skala 8 &#8211; 10, ia akan dianggap anak pandai, cerdas, pintar.  Padahal “kepintaran” di atas kertas itu bukanlah &#8220;kepintaran&#8221;  sejati.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Sialnya, pemahaman salah kaprah itu diyakini  sebagian besar dari kita, orangtua. Siapa yang ber-IQ tinggi kelak bakal sukses  hidupnya ketimbang orang yang IQ-nya rata-rata. Padahal dalam praktik, tidak  selalu demikian. Misal, Tak sedikit pemiliki IQ tinggi justru terpental dari  ketatnya persaingan memasuki dunia kerja.</span></span><span id="more-8"></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>&#8220;Mereka yang IQ-nya biasa-biasa saja  malah  bisa menjadi selebriti,“ canda Prof.  Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, guru besar   Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia,                         Jakarta.</span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:Verdana;"><span>Langsung Praktik</span></span></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Hasil penelitian Daniel Coleman (1995 dan  1998) menguatkan  ucapan Sarlito.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Konon IQ hanya memberi kontribusi 20% dari  kesuksesan hidup seseorang. Selebihnya bergantung pada kecerdasan emosi  (emotional intelligence, EI atau EQ) dan sosial yang</span></span><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span>bersangkutan. Di sisi lain, 90% “keberhasilan kerja”  manusia ternyata ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya, sisanya (sekitar 4%)  jatah kemampuan teknis.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Ada juga penelitian jangka panjang terhadap  95 mahasiswa Harvard jebolan tahun 1940-an. Puluhan tahun kemudian, mereka yang  kerap mendapat nilai tes paling tinggi di perguruan</span></span><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span>tinggi dulu ternyata hidupnya tak terlalu sukses  dibandingkan dengan rekan-rekannya yang ber-IQ biasa saja. Dalam hal ini  kesuksesan diukur lewat besaran gaji, produktivitas, serta</span></span><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span>status bidang pekerjaan  mereka.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Dalam sebuah survei terhadap ratusan  perusahaan di AS, terungkap pula faktor yang menjadikan seorang pemimpin atau  manajer jauh lebih berhasil dari yang lain. Yang terpenting bukan kemampuan  teknis atau analisis, tapi justru hal yang berkaitan dengan emosi atau perasaan  dan hubungan personal. Empat hal yang paling menonjol adalah</span></span><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span>kemauan, keuletan mencapai tujuan, kemauan  mengambil inisiatif baru, kemampuan bekerja sama dan kemampuan memimpin  tim.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Celakanya, jor-joran mengejar IQ tinggi  sampai hari ini kerap terjadi. Masih menurut penelitian, IQ manusia rata-rata  meningkat 20 poin dalam 20 tahun terakhir. Artinya, di atas kertas, orang makin  cerdas.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>T<strong>api, apakah kecenderungan itu membuat  hidup manusia jadi  lebih bahagia?</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Ternyata tidak. Di balik tingginya IQ itu  kemampuan manusia memahami dan mengendalikan emosi &#8211; inilah yang disebut Peter  Salovey dan John Meyer sebagai emotional inteligence (EI) atau kecerdasan emosi  &#8211; malah menurun.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Survei juga menunjukkan adanya kesamaan  fakta di berbagai belahan dunia, bahwa anak-anak generasi sekarang lebih banyak  mengalami kesulitan emosional ketimbang pendahulunya. Mereka lebih kesepian dan  pemurung, tapi di sisi lain, lebih galak dan kurang menghargai sopan santun.  Lebih gugup dan mudah cemas, serta lebih impulsif dan agresif. Tak jarang mereka  menarik diri dari pergaulan, lebih suka menyendiri, bersikap sembunyi-sembunyi,  kurang bersemangat, dan tentu saja kurang bahagia.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Data juga menunjukkan, kesejahteraan serta  daya sosial anak dan remaja merosot jauh. Makin banyak di antara mereka yang  meninggal karena penyalahgunaan obat bius, bunuh diri dengan alasan sepele, atau  melakukan tindak kriminal di usia belasan tahun.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Menurut data pada tahun 2003, 1.800.000 anak  Indonesia menjadi pecandu narkoba dan 11.344 anak ditangkap polisi karena  melakukan tindak kriminal.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Hal itu terjadi karena IQ hanya berhubungan  dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis (otak kiri). Sedangkan EQ lebih  banyak berhubungan dengan perasaan dan emosi (otak kanan).</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Seorang teman bercerita, saat berpesawat  dari Surabaya ke Jakarta, dia mendapati Hardjono, kawannya, duduk di kursi yang  bukan jatahnya. Saat itulah, Maya, si pramugari datang, “Maaf, Bapak sudah  mencocokkan nomor di tiket dengan nomor di kursi? Kalau ada kesulitan, biar saya  bantu, Pak,” tegurnya halus. Hardjono tersenyum, dan segera sadar akan  kekeliruannya.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Coba bayangkan kalau Maya langsung menyuruh  Hardjono pindah tempat duduk, situasinya pasti bakal beda. “Caranya  ‘menyadarkan’ saya simpatik sekali,” jawab Hardjono, ketika ditanya alasannya  pindah ke tempat duduknya yang benar. Si pramugari bisa disebut sebagai orang  yang mempunyai EQ tinggi. Keterampilan yang butuh praktik langsung, bukan  sekadar teori</span></span><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span>dalam buku  teks.</span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:Verdana;"><span>Ciptakan Komunikasi  Efektif</span></span></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Prof. Sarlito menengarai, banyak hal menjadi  penyebab rendahnya kecerdasan emosi dewasa ini.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Beberapa di antaranya, perubahan nilai  sosial dalam 40 tahun terakhir, kurangnya waktu luang orangtua untuk mengasuh  anak, meningkatnya angka perceraian, pengaruh teve dan media elektronik lainnya,  serta menurunnya rasa hormat terhadap insitusi sekolah.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Tak kalah penting, adanya orangtua seperti  ibu Yola itu. J. Drost S.J. dalam sebuah seminar di Jakarta menggarisbawahi,  “pemaksaan” seperti dilakukan ibu Yola sebagai hal yang betul-betul dapat  menghancurkan kecerdasan emosi anak. Bocah yang masih mencari jati diri kok  dipaksa hidup pada tingkat intelektual yang tidak sesuai dengan dirinya. Sama  seperti anak yang tidak kuat di mata pelajaran matematika, tapi dipaksa  orangtuanya masuk jurusan IPA. Hasilnya, amburadul!</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Untungnya, tidak seperti IQ, EQ dapat-  dikembangkan dalam segala tingkat usia. Paling afdol tentu sejak tahap awal  perkembangan anak. Orangtua sebaiknya membangun keluarga dengan landasan  sikap-sikap positif, seperti menekankan pentingnya berbagi dengan sesama, saling  menyayangi, dan berorientasi mencari solusi. Komunikasi efektif harus  diciptakan,</span></span><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span>agar anak  terangsang untuk mendengar, mengerti, dan berpikir.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Disiplin juga perlu, tapi yang lebih  mengutamakan self direction dan upaya memperbaiki diri. Sejak dini, orangtua  dapat mengajak anaknya berempati pada masalah orang lain. Misalnya, sekali-kali  ajak mereka jalan-jalan menyusuri rumah kawannya yang sederhana. Agar ia tahu,  di luar lingkungan keluarganya (rumah besar dengan banyak perabot), banyak anak  yang harus tidur berpayung atap bocor, dan beralas tikan tipis.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Selain berempati, ajak juga anak  mengekspresikan emosinya. Misalnya, jika sedang senang, tunjukkanlah agar orang  lain ikut gembira. Sebaliknya, jika hendak marah, salurkan lewat cara yang  tepat, agar tak semua orang menjadi sasaran kemarahan. Ciptakan pembelajaran  begitu rupa, sehingga anak mampu mengendalikan emosinya, mudah beradaptasi  dengan lingkungan,</span></span><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span>serta  mampu mencari jalan keluar atas berbagai masalah yang dihadapi.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Tanamkan sifat gigih, suka menolong, dan  menghormati orang lain. Pendek kata, orangtua ditantang untuk mengembangkan  anaknya, agar tak hanya memiliki kecerdasan kognitif yang tinggi, tapi juga kaya  wawasan dan tetap manusiawi. Berat memang. Itu sebabnya, pekerjaan besar ini  harus dicicil sejak anak masih kecil.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Dengan EQ tinggi, jika kelak ia lulus dari  perguruan tinggi dengan nilai pas-pasan, jalan menuju sukses tak akan tertutup.  Sebab, dalam dirinya sudah tertanam kepercayaan diri yang tinggi, yang  didapatnya dari pergaulan dengan banyak orang, kenal banyak kalangan, dan luwes  dalam berteman.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Pemilik EQ tinggi juga mampu menguasai emosi  dan memiliki mental sehat, serta pandai menempatkan diri. Lantaran mengerti  tempatnya di dunia itulah ia selalu mempunyai sikap batin yang tepat, sehingga  dapat mengambil keputusan dengan tepat pula.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Jadi, biarkan Yola tak mendapatkan ranking  pertama di kelasnya. Yang penting, kemampuan akademiknya tidak tertinggal jauh  di bawah rata-rata. Sebaliknya, dorong terus agar kecerdasan emosinya terasah  menjadi lebih tinggi.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Membangun keseimbangan kecerdasan  intelektual dan emosional mungkin lebib berguna bagi masa depan ketimbang  memaksakan keinginan seperti ibu Yola.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span>Sumber: <strong>intisari</strong></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alharaki.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alharaki.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alharaki.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alharaki.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alharaki.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alharaki.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alharaki.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alharaki.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alharaki.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alharaki.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alharaki.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alharaki.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alharaki.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alharaki.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alharaki.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alharaki.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alharaki.wordpress.com&amp;blog=2248185&amp;post=8&amp;subd=alharaki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alharaki.wordpress.com/2008/08/06/kejarlah-eq-sukses-kau-tangkap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8024196a5486a35c5c8478abf2413673?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alharaki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Neno Warisman: Manajemen Shalat Pada Anak</title>
		<link>http://alharaki.wordpress.com/2008/04/27/neno-warisman-manajemen-shalat-pada-anak/</link>
		<comments>http://alharaki.wordpress.com/2008/04/27/neno-warisman-manajemen-shalat-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 04:05:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alharaki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Neno Warisman]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alharaki.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Bunda&#8230;aku kan udah tahu caranya pasang &#8216;pampers&#8217; dewasa, kalau nanti aku dah baligh. Tau nggak apa yang aku seneng kalau aku dah baligh?&#8221; matanya mengerjab-ngerjap seperti binatang. &#8220;Apa ya? Hmm&#8230; soal dipercaya kali ya? Kan udah gede, atau hmm&#8230; apa ya? Bisa jalan-jalan jauh? Atau..hmm..apa ya? &#8220;He..he..he.. Bunda, tapi jangan marah ya&#8230;janji ya&#8230;!&#8221; &#8220;Ah adik, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alharaki.wordpress.com&amp;blog=2248185&amp;post=7&amp;subd=alharaki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://farm3.static.flickr.com/2136/2444919026_8e4500fe10_m.jpg" alt="Shalat Anak" width="226" height="240" />&#8220;Bunda&#8230;aku kan udah tahu caranya pasang &#8216;pampers&#8217; dewasa, kalau nanti aku dah baligh. Tau nggak apa yang aku seneng kalau aku dah baligh?&#8221; matanya mengerjab-ngerjap seperti binatang.</p>
<p>&#8220;Apa ya? Hmm&#8230; soal dipercaya kali ya? Kan udah gede, atau hmm&#8230; apa ya? Bisa jalan-jalan jauh? Atau..hmm..apa ya?</p>
<p>&#8220;He..he..he.. Bunda, tapi jangan marah ya&#8230;janji ya&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah adik, kayak bundanya suka marah-marah aja&#8230;Emang Bunda suka marah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmm&#8230; suka juga sih, tapi ini jujur, lho&#8230;, Bunda suka marah tapi kalau anak-anaknya keteraluan! Iya kan?&#8221;</p>
<p>Ibu tersebut mencubit pipi anaknya dengan gemas, lalu berkata, &#8220;Oke deh, kalau Bunda keteralaluan, maafin juga ya, Dik&#8230;&#8221;</p>
<p>Mereka saling berpelukan.</p>
<p>&#8220;O ya tadi, apa yang enak&#8230; kalau adik udah baligh?&#8221;</p>
<p>Sambil merapatkan badan dipangkuan ibunya, anak tersebut berkata, &#8220;He..he..he.. enaknya?..he..he.. enakmya kita bisa nggak shalat! He..he..he.. Bunda enggak marahkan?&#8221;</p>
<p>Sang ibu mesem pahit, &#8220;Iya juga ya Dik&#8230;he&#8230;he&#8230;susah ya Dek shalat terus?&#8221;<span id="more-7"></span></p>
<p>Bagi Anda yang pernah membaca buku berjudul &#8216;Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi&#8217; akan menemukan cuplikan dialog antara ibu dan anak di atas. Neno Warisman, sang penulis sekaligus sang ibu yang ada dalam cerita, dengan jeli menggambarkan kepolosan anak, termasuk dalam perkara shalat. Bagaimana dengan Anda yang berperan sebagai ibu, kira-kira reaksi apa yang akan Anda tunjukkan ketika mendapati ungkapan polos seperti yang ada dalam dialog tadi?</p>
<p>Apa yang dijalankan Bunda Neno, demikian kini ia akrab disapa, dalam upaya mendidik anaknya disiplin shalat, bolehlah menjadi alternatif referensi. Aktris sinetrin terbaik FSI 1990 ini punya kiat dan pandangan tersendiri soal membiasakan diri anak shalat. Neno yang kini menjadi salah satu icon dunia pendidikan anak di negeri ini mengakui bahwa ada saat anak-anak merasa malas untuk melakukan shalat, yang hal itu sebenarnya -kalau mau jujur-juga pernah dialami kita para orang tua.</p>
<p>Di sela-sela kesibukannya mengisi acara di Kota Duri, Riau, beberapa waktu lalu, Bunda Neno dengan antusias berbagi cerita dan hikmah perihal membiasakan anak shalat. Salah satu hal yang menarik adalah memberi kesempatan anak untuk malas shalat. Bagimana yang dimaksud Bunda dari Ghifari, Maghfi dan Odi soal memberi kesempatan malas ini? Berikut kutipan wawancara Bunda Neno dengan Diah Novi Wulandari dari Auladi, di tengah perjalanan Duri-Pekanbaru. Kesan ramah, energik dan bersemangat tak pernah lepas sepanjang wawancara. Menunjukkan kepedulian yang sungguh-sungguh atas setiap kata yang diungkapkan pendiri Neno Educatin Center ini.</p>
<p><strong>Bagaimana menurut Bunda, pola yang terbaik untuk membiasakan anak disiplin melaksanakan shalat?</strong></p>
<p>Sebenarnya konsep itu sudah Allah SWT tuangkan melalui Al Quran di dalam surat Luqman. Ada beberapa tahap yang mestinya dilakukan orang tua sebelum memerintahkan anaknya shalat. Dalam surat Luqman itu kan yang pertama mengenal Allah SWT, <em>&#8220;Ya Bunayya laa tusyrik billah. Inna syirka ladzulmun &#8216;adzhim.&#8221;</em> Wahai anakku jangan memepersekutukan Allah SWT dan seterusnya. Jadi yang pertama yang dijadikan dasar dalam mendidik anak adalah dia merasa dekat dulu dengan Allah SWT, bukan perintahnya dulu. Artinya dia merasa dekat dulu, merasa akrab dengan Allah SWT. Nah, bagaimana bisa merasa akrab kalau Allah SWT itu dikenalkan dengan cara yang salah. Jadi tugas pertama sebelum meminta dia shalat, kita perkenalkan dulu bahwa Allah SWT adalah tokoh. Tokoh yang sangat baik, yang sangat indah, segala-galanya.</p>
<p>Itu dari mana? Nah kita ajak anak <em>tadabbur</em>. Sempatkan diri para orangtua untuk duduk sejenak, misalnya duduk berdua di depan rumah berangin-angin. &#8220;<em>Subhanallah</em> Nak, siapa yang mengirimkan angin? Enak sekali angin. Coba lihat bulan, bintang berkedib-kedib nggak ada yang menyalakan. Maha Besar Allah SWT. Lalu matahari..dia terbit dan tenggelam nggak pernah telat ya? Matahari disiplin sekali, siapa yang mengatur matahari?&#8221;</p>
<p>Jadi dari takjub itu dia merasakan bahwa Allah SWT itu adalah dzat yang luar biasa. Itu penting ditanam dulu. Baru konsep <em>belonging</em>. Konsep <em>belongin</em> akan berjalan kalau konsep itu disampaikan secara eksplisit oleh orang tua kepada anaknya. &#8216;Ummi sayang sekali kepadamu, tapi Allah SWT lebih sayang. Sesayang-sayang Bunda kepadamu, lebih sayang Allah SWT padamu.&#8217;</p>
<p>Shalat itu hal yang pertama akan ditanyakan, itu rangkaiannya dengan kematian. Jadi orangtua harus seimbang. Jadi memberitakan kabar-kabar gembira pada anak. Ada seorang anak yang sangat tegang karena ibunya selalu menceritakan balasan yang menyeramkan tentang akhirat. Misalnya ketika pagi hari melihat bunga mekar, kita katakan, &#8220;<em>Subhanallah</em>, Allah SWT mengirimkan malaikat untuk memekarkan bunga ini pada saat kita sedang tidur. Malaikat Allah SWT itu banyak sekali, untuk menjaga gigi adek.&#8221; Jadi yang ghaib juga mulai dikenalkan.</p>
<p>Kalau sudah kita kenalkan bahwa Allah SWT itu adalah pihak yang paling berpengaruh terhadap dia, kita tanamkan tauhiidnya. Barukan ayat berikutnya adalah tentang orang tua. Belum tentang shalat dulu loh. Berbuat baik kepada ibu bapak gimana? Saat ibu memanggil dan anak menjawab &#8216;Nantilah&#8217;, anak pun akan menangkap bahwa ibu dan bapak itu bisa ditunda dalam hidup kita saat kita membutuhkan dia. Nanti dia akan menunda kita dalam hidup kita. Anak kita perlu tahu bahwa orangtua itu penting untuk kita, sehingga kita pun penting bagi dia. Jadi penting mencontohkan berbuat baik kepada orang tua.</p>
<p>Baru berikutnya perintah shalat. Keteladanan orang tua dalam hal ini sangat penting. Kita jadikan keteladanan itu mengalir di dalam rumah. Itu berawal dari bagaimana berbuat baik terhadap orang tua. Nah untuk anak berbuat baik itu, orang tua harus berbuat baik dulu. Kita nggak dapat gratis dari anak kita. Kalau kita hanya melihat anak kita sebagai anak biologis kita, kita nggak akan pernah sampai pada shalatnya dia. Karena dia sendiri dari ruh, akal, badan. Ketiganya harus kita santuni, kita harus berbuat baik pada ketiganya. Kalau misalnya kita minta dia shalat, tapi kita abuse sama akalnya maka kita nggak dapat. Nggak bisa cuma satu terus kita mau dapat semua, harus ketiga-tiganya. Barulah kita mengenalkan shalatnya. (bersambung&#8230;)</p>
<p>Ada orang tua yang ngaku waktu kecil anaknya mudah diajak shalat, tapi mulai usia 7 tahun mulai merasa kewalahan. Menurut Bunda bagaimana?</p>
<p>Sebenarnya anak sudah otomatis ikut shalat kalau di rumahnya orang tuanya sudah terbiasa shalat. Baru mulai usia 7 tahun mulai ada &#8220;pemberontakan&#8221;. Memang ada rumusannya pada usia 7 tahun anak sudah mulai melakukan pemeberontakan. Karena sel-sel syaraf di usia 7 tahun sudah tersambung penuh. Pada usia itu dia sudah menjadi orang lain. Dia lebih menyukai orang lain daripada orangtuanya. Itu memang masanya dia melihat keluar jendela. Termasuk mencari laa ilaha ilallah. Allah SWT mengajarkan manusia untuk merdeka dulu. Meniadakan selain yang lain selain Allah, baru bisa menemukan Allah SWT, baru kenal bener. Ada orang tua yang curhat, waktu kecil anaknya gampang betul disuruh shalat, tapi mulai kelas 1 SD mulai susah.</p>
<p>Kalau dia meniadakan shalat, maka sebenarnya dia sedang memproses dirinya, supaya dia kenal benar. Pada saat seperti itulah dia betul-betul butuh kenyamanan untuk melakukan shalat. Pertama, temukan dia melakukan shalat dan beri apresiasi. Kedua, berikan kondisi yang sangat nyaman ketika dia melakukan shalat. Misalnya buatkan sajadah yang dia suka. Ketiga, ceritakan kisah-kisah orang-orang yang mendapat balasan-baik dunia maupun akhirat dengan shalatnya. Misalnya terompah Bilal, cerita orang-orang yang mementingkan shalatnya daripada yang lain. Ajak dia dalam komunitas sebayanya yang juga melakukan shalat. Terlebih lagi kita biasakan, misalnya tiba waktu shalat kita sedang dalam perjalanan, kita berhenti untuk shalat, jadi dari situ anak tahu bahwa kita berani menunda kepentingan yang lain untuk shalat. Hal itu akan berbuah kepada anak kita.</p>
<p>Tapi itu semua belum tentu berhasil. Ada saatnya dia ingin menunda, ada saatnya dia malas. Bahkan ingin tidak mengerjakan. Beri kesempatan dia untuk merasakan itu. Beri kesempatan untuk membedakan antara orang yang shalat  dan tidak shalat. Orang tua itu kayak detektif, harus bisa membedakan. Karena akan berbeda cahaya mata anak kita, ketika dia shalat atau tidak. Ketika tidak shalat kita bilang, &#8220;Kok tidak ada cahaya Allah SWT di sana. Kayaknya ada yang nggak shaleh di matanya.&#8221; Kalau dia menanggapi &#8220;Kok tahu?&#8221;, kita katakan kalau orang yang shalat itu wajahnya bercahaya. Nah kalo dia dah shalat, kita dekati dia. Kita usap dadanya, karena sentuhan itu penting bagi anak. Kita bilang &#8220;Gimana enak mana sudah shalat apa belum shalat?&#8221; Beri kesempatan dia untuk jujur. Kalau memang dia jawab &#8220;Sama aja.&#8221; Kita apresiasi, &#8220;Alhamdulillah&#8230;berarti masih ada kesempatan banyak bunda berbauat baik kepadamu.&#8221; Pokoknya harus positif dan nggak nge-judge. Misalnya &#8220;Aduh malas nih si kakak&#8230;&#8221; nah itu ga boleh, karena akan jadi boomerang. Kita ingin dia berubah, tapi kita menyakiti hatinya. Maka dia tidak akan melakukannya. Cercaan, perbandingan justru akan menyakiti hatinya. </p>
<p><strong>Pengalaman Bunda Sendiri Gimana?</strong></p>
<p>Masing masing anak kan berbeda ya. Adakan anak yang suka membaca dia suka berpikir, ketika menunda sholat dia beralasan &#8220;Sholat itu harus dikerjakan dengan ikhlas, kalau hanya ingin dibilang sholat percuma&#8221;. Kita biarkan dulu pendapat dia seperti itu. Yang lain misalnya suka cari perhatian, sholatnya cepat sekali. Tiba tiba dia bilang &#8220;Aku sudah sholat.&#8221; Kita biarkan dulu. Nah ada juga anak yang lambat sekali kalau disuruh sholat. Misalnya sholat isya lama dia nggak sholat. Tapi pas mau tidur dia bilang &#8220;Aku ngantuk sekali, tapi aku belum sholat.&#8221; Sambil merengek. Ada juga yang tetep main rapi ketika waktu sholat dia berhenti dan sholat.</p>
<p>Berikan waktu pada anak anak untuk memproses dirinya. Anak anak saya juga seperti anak yang lain. Kadang mereka mudah sekali, kadang susah sekali. Ya biasanya di antara. dua kutub itulah. Tapi saya menikmati proses itu. Ada kalanya mereka tiba tiba bilang, &#8220;Bunda aku kemaren sholat lima waktu Iho, waktu Bunda pergi. Sekarang aku mau sholat lima waktu lagi.&#8221; Wah kalau mendapati itu, kita apresiasi yang sangat tinggi. Kita bisa kasih hadiah, tapi usahakan jangan benda.</p>
<p>Hal yang harus dilakukan orangtua adalah membuat varian yang banyak sekali, agar perintah sholat itu tidak monoton. Itu yang paling dibenci anak anak. Jadi kata. yang sama, anak benci banget. Banyak cara untuk meminta anak sholat, untuk memberikan motivasi.</p>
<p>Suatu hari misalnya kita ketawa, maghrib sudah lewat kita, pandang matanya. Anak-anak biasanya suka salah tingkah kalau dipandangi begitu. Baru kita. berikan makna di belakang itu, kita bilang, &#8220;Di surga itu katanya ada anak anak yang Allah sayang sekali sama mereka. Ternyata dulunya anak-anak itu mengerjakan sholat tanpa diminta.&#8221;</p>
<p>Orang tua kebanyakan pakai target. Target¬target contreng, jadi keimanan dicontreng. Misalnya anaknya tiga, didata anaknya. Ditanyain satu per satu. Kalau begitu menurut saya tidak ada kenikmatan sholat di sana. Satu hal lagi yang saya coba jalankan, berikan kesempatan anak melihat saat kita dan air mata kita saat kita sholat. Ada saatnya kita perlu &#8220;show up&#8221; di hadapan anak anak. Ketika sholat anak¬anak tahu kita. menangis, biasanya anak akan bertanya kenapa ayah atau ibunya menangis ketika sholat.&#8217;Kita jelaskan bahwa kita menangis karena bahagia, melalui sholat itu kita bisa sujud pada Allah. Setelah itu boleh jadi dia akan main lagi, tapi itu membekas pada anak.</p>
<p>Lalu di depan anak, berdoalah untuk dia. Ciptakan suasana yang sangat nyaman ketika sholat berjama&#8217;ah di rumah. Itu biasanya dilakukan oleh ibu di rumah. Kalau saya biasanya habis shubuh adalah saat yang paling disukai anak anak saya. Biasanya main kuis atau shalawat bersama. jadi dempetkan waktu sholat itu dengan kegiatan yang menarik. jadi image yang terbangun adalah waktu sholat itu adalah waktu yang menyenangkan.</p>
<p><strong>Lalu bagaimana sikap kita sebagai orang tua ketika menghadapi keengganan anak melakukan sholat?</strong></p>
<p>Sebenarnya kalau orang tua mau jujur, mereka juga mengalami saat di mana ada perasaan malas melakukan sholat. Tapi boleh Jadi bagi orang tua yang jaim (jaga image ‑red) akan serta merta menjawab tidak pernah merasa malas ketika sang anak bertanya apakah orang tuanya pernah merasa malas sholat. Padahal boleh jadi kita sebagai orang tua baru mulai sholat pada usia 25 tahun.</p>
<p>***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alharaki.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alharaki.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alharaki.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alharaki.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alharaki.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alharaki.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alharaki.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alharaki.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alharaki.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alharaki.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alharaki.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alharaki.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alharaki.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alharaki.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alharaki.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alharaki.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alharaki.wordpress.com&amp;blog=2248185&amp;post=7&amp;subd=alharaki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alharaki.wordpress.com/2008/04/27/neno-warisman-manajemen-shalat-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8024196a5486a35c5c8478abf2413673?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alharaki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2136/2444919026_8e4500fe10_m.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Shalat Anak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Assalamu &#8216;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</title>
		<link>http://alharaki.wordpress.com/2007/12/03/halo-dunia/</link>
		<comments>http://alharaki.wordpress.com/2007/12/03/halo-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2007 03:03:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alharaki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>
		<category><![CDATA[sdit]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Selamat menikmati Weblog dari Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Haraki, Depok. Kumpulan tulisan disini dikontribusikan untuk kemajuan Generasi Rabbani. Bila ingin ikut berkontribusi silahkan kirimkan tulisan, artikel, opini, nasehat dan lainnya yang berguna bagi dunia pendidikan Islam ke mkfachrulz@gmail.com<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alharaki.wordpress.com&amp;blog=2248185&amp;post=1&amp;subd=alharaki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat menikmati Weblog dari Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Haraki, Depok. Kumpulan tulisan disini dikontribusikan untuk kemajuan Generasi Rabbani. Bila ingin ikut berkontribusi silahkan kirimkan tulisan, artikel, opini, nasehat dan lainnya yang berguna bagi dunia pendidikan Islam ke mkfachrulz@gmail.com</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alharaki.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alharaki.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alharaki.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alharaki.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alharaki.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alharaki.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alharaki.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alharaki.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alharaki.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alharaki.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alharaki.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alharaki.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alharaki.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alharaki.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alharaki.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alharaki.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alharaki.wordpress.com&amp;blog=2248185&amp;post=1&amp;subd=alharaki&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alharaki.wordpress.com/2007/12/03/halo-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8024196a5486a35c5c8478abf2413673?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alharaki</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
